Minggu, 14 April 2013

aku bukan sister complex: Prolog




            “DUARRR”petir menyambar dengan hebat sedangkan aku hanya bisa menarik kaki ku dan melipatnya ke dalam pelukan ku. Tadi siang aku kalah dalam lomba lukis tingkat SMA, aku terus mengutuk diri ku dalam diam. Ini sudah tahun kedua ku di SMA sedangkan tahun berikutnya aku tidak mendapat kesempatan lagi.
            Entah mengapa, kekalahan ini terasa pahit. Bayangkan jika dirimu memiliki bakat sekitar separuh dari orang itu dan kamu kalah karena bakat dia lebih banyak dari mu. Bukannya kerja keras mu hanya seperti udara yang lewat.
            Beberapa hari yang lalu aku dapat dengan pasti percaya. Bahwa kerja kerasa adalah penentu kesuksesan, tapi setelah kejadian ini kau perlu menambahkan bahwa bakat 80 persen lebih besar dari pada kerja keras untuk menentukan masa depan mu.
            Mungkin terdengar bodoh jika kau berteriak pada orang yang memiliki bakat tentang kerja keras mu. Tapi akan terdengar  lebih bodoh lagi jika kau menyalahkan tuhan atas bakat yang dia berikan. Ini mungkin terdengar sederhana tapi kau akan terus berputar –putar dalam kegelapan yang menyiksa lalu mati dalam keputus asaan.
            Tapi malam ini, mungkin aku akan terus terpuruk tanpa tahu,apa yang akan kulakukan, jika perempuan yang ada di hadapan ku ini tidak memiliki kepentingan malam ini pada ku.
            Perempuan ini atau lebih tepatnya kau sebut remaja putri berdiri dalam diam dengan menundukan kepala. Sisa – sisa dari hujan yang menerpanya sangat terlihat dengan jelas menetes dari rambutnya yang terurai. Jaket putih dan rok selutut juga kaus kaki panjang yang dipakainya, membuat ku harus menebak apa kepentingan orang ini.
            Rumah ku berada di tempat paling sulit di jangkau  menurut mu jika itu berada di tengah kota. Rumah ku seperti berada di tempat yang tidak kau kira, persimpangan antara gedung dengan luas kurang dari 2 meter adalah pintu utamanya.
            Cukup sulit untuk Cuma iseng datang ke sini kecuali kau mau bunuh diri dengan beberapa orang yang berada di depan  gang antara gedung ini. Belum lagi setatus ku sebagai orang cukupberbahaya di daerah sini. Cukup berkata kau kenal Aries semua orang yang berada di daerah ini akan menjaga mu dengan selamat sampai ke tempat ku atau malah membunuh dengan seluruh badan terpotong –potong.
            “Aku…” ucapnya dengan jeda yang lama seakan aku akan membunuhnya setelah mendengar kata berikutnya dari mulutnya.
            “Aku, apa?. Aku masih sibuk di dalam jika kamu hanya mengusik ku sekarang. Aku akan menutup pintu ini dengan paksa” ku lontar kata – kata yang cukup untuknya agar kembali melanjutkan pembicarnya yang memakai jeda cukuplama tadi.
            “Aku adalah adikmu, aku ke sini untuk melihat keadaan kakak” Cukup dengan satu teriakan mungkin aku akan menedangnya keluar. Sejak kapan aku memiliki adik sedangkan orang tua ku saja meninggalkan ku dengan luka mental yang cukup dalam.
            “Masuk lah” ucap ku dengan amarah yang hampir keluar. Matanya kembali mengucapkan ketakutan dengan langkah setengah ragu perempuan ini memasuki rumah ku.
            Terpampang dengan jelas isi dari rumah ku yang cukup membuat orang lain  takjub. Bagi mereka Aries adalah kriminal tangguh yang tidak pernah memakai ototnya untuk mengalahkan lawan. Cukup dengan satu aba – aba kau bisa melihat musuh di depan mu mati dengan mengenaskan.
            Tapi melihat rumahnya rapi dengan hiasaan yang cukup menggoda mata. Kamu akan tertawa setelah mengingat julukan Aries tadi. Mata perempuan ini terus memandangi sekitarnya, setelah ku perbolehkan duduk perempuan ini masih membeku diam.
            “Lalu apa perlu mu, di sini” aku berucap dengan tenang saat ini. Bisa saja perempuan didepan ku ini hanya berbohong, lalu mencari cara untuk menjebak ku.
            “Aku di sini ingin tinggal dengan kakak” Perempuan ini tersenyum dengan manisnya tapi masih ada ketakutan dari sorot matanya yang mungil.
            “Bisa kau hentikan kata kakak itu terdengar cukup menjijikan untuk di dengar” aku bersuara dengan lantang tapi dia hanya menatap terkejut.
            “Nama ku Nita kak, aku kemari ingin mengurus kakak” Perempuan ini sekali lagi memberanikan dirinya mengabaikan kata – kata ku, dengan cukup manisnya.
            “Apa maksud mu dengan mengurus ku, cukup bagus jika kau berkata 3 tahun lalu di saat aku mulai pada titik terakhir penghancuran hidup ku. Tapi jika sekarang kau hanya menjadi beban ku saja”matanya kembali memandang ku dengan pelan, seakan takut dan ragu di hanya kembali diam.
            “Maafkan aku kak”ucapnya sambil mengusap air mata “Aku tidak bisa melihat kakak karena kakek melarangku,Ak-ku ingin bertemu kakak”kali ini kurasa hati ku mulai melunak.
              “Lalu kamu akan tinggal di sini” mata ku mulai bertanya, tapi di balas dengan senyum ceria dan tatapan harapan dari kedua matanya.
            Aku mulai berpikir ke depan entah apa yang akan terjadi bisa jadi hal yang tidak mengenakan akan menimpa ku dalam waktu dekat.

0 komentar:

Katakan apa yang Anda pikirkan mengenai ini ...